BAGI PARA SAHABAT/SAUDARA YANG MAU BUAT / PESAN WEB SEPERTI INI SILAHKAN HUBUNGI KAMI DI CONTANT US

UPACARA ADAT NIAS

Suku nias adalah salah satu suku yang masih menjunjung tinggi nilai adat dan istiadat peninggalan leluhurnya.
Hal ini dapat di buktikan dari upacara adat yang masih berlaku sampai sekarang, seperti upacara kelahiran, pernikahan, kematian dan upacara adat lainnya.
Berikut macam macam upacara adat khas suku nias.

1. Upacara kelahiran

Tradisi yang biasa di lakukan apabila anak pertama lahir adalah ayah dari anak tersebut berkunjung kerumah mertua untuk menyampaikan bahwa cucunya telah lahir.
Pada upacara ini mertua diwajibkan membuat pesta dengan memotong babi 🐷. Setelah si anak berumur maksimal 1 bulan, maka si anak akan di beri nama (lafatoro doi)

Upacara ini juga memotong seekor babi untuk pesta keluarga dan masyarakat sekitar. Selanjutnya penyampaian ke Ere atau Pendeta supaya sianak didoakan agar tetap sehat.

2. Upacara pernikahan

Dalam upacara pernikahan terdapat empat point penting yang harus dilaksanakan. ⇨Famatua (pertunangan) ⇨Fanema bola (penentuan jujuran) ⇨Famekola (penyerahan mahar jujuran) ⇨Falowa (pesta pernikahan)

3. Upacara kematian

Upacara kematian untuk orang tua laki – laki, biasanya pada waktu sakit dilakukan pesta dengan memotong babi serta mendatangkan ere atau pendeta.
Upacara ini ditekankan pada pemberian makan terakhir bagi orang yang sakit. Dalam upacara ini si anak meminta kemuliaan terhadap si bapak yang akan meninggal.
Pada waktu bapak itu meninggal maka anak pertama membasuh wajah si bapak dan air sisa lap itu disimpan di dalam botol untuk kemudian disimpan di rumah yang difungsikan sebagai obat, kekuatan.
Kemudian mayat di dudukkan serta ditempatkan di depan rumah (di sudut kiri) dan dijaga sampai mayat itu habis karena busuk. Setelah daging yang melekat pada mayat itu habis maka kepala mayat itu diambil dan diletakkan di atas piring, dibersihkan dengan minyak kelapa lalu ditanam dibawah behu (batu berdiri).
Pemasangan behu itu bersamaan dengan pemasangan batu datar (awina). Muka tengkorak itu menghadap menghadap ke depan rumah dan diantara tengkorak itu diletakkan binu untuk keperluan sebagai bantal, pembantu, penjaga. Hal ini memiliki makna bahwa yang meninggal itu memiliki status sosial yang tinggi.
Status sosial itu juga bisa didapatkan jika orang tua yang meninggal diberi binu pada waktu dikuburkan. Binu yang diambil biasanya yang berumur tua, sedangkan anak – anak dan wanita tidak diperkenankan menjadi binu.

Jika pada waktu orang tua akan meninggal maka segala pesan – pesannya wajib diikuti kalau tidak diikuti akan menimbulkan masalah – masalah pada kehidupan anak – anaknya.

4. Upacara Owasa / Faulu

Upacara Owasa / Faulu merupakan rangkaian upacara yang berkaitan dengan struktur sosial atau pembentukan struktur sosial masyarakat.
Nias bagian utara upacara peningkatan status sosial disebut owasa sedangkan di Nias selatan disebut faulu.
Upacara Owasa dibuat dengan pesta yang bertingkat – tingkat dengan melebihi aturan yang ada yaitu dengan memotong lebih banyak babi sehingga mendapatkan status sosial yang lebih tinggi dari biasanya.
Status sosial itu didapatkan dalam bentuk gelar / nama kebesaran. Owasa / failu dibagi atas dua bagian yaitu owasa failu bagi salawa / si’ulu’ dan owasa / faulu bagi masyarakat biasa.

Berikut upacara owasa yang biasanya dilakukan masyarakat biasa.

→ Perkawinan anak laki – laki. → Kelahiran anak. → Berkebun / memanen. → Pesta Owasa Hurukoko, pesta untuk paman, mertua, keluarga lain yang dekat. Pesta ini dilakukan dengan memotong 3, 6, 12 ekor babi. → Pesta dengan membuat rumah dilakukan dengan memotong 12 – 20 ekor babi. → Fotohebioboro’i merupakan pesta owasa yang memotong 20 – 20 ekor babi. → Mengawinkan anak pertama lelaki dilakukan pesta owasa dengan memotong 30 – 50 ekor babi. → Pesta pada waktu orang tua sakit memotong 30 ekor babi. → Sudah tua owasa fodreha hua / famalau, pesta yang terlengkap yang disebut balugu.

Tingkatan Upacara owasa yang dilakukan keturunan Balugu / Salawa / Si’ulu (raja):

Owasa Bawango Walu, pesta perkawinan anak laki – laki dengan memotong babi 20 ekor.
Owasa Famatoro Do’i Ndraono, melahirkan anak dengan memotong babi 2 ekor.
Owasa Aifadao Femana Bua No’i, pekerjaan di ladang dengan memotong babi 1 ekor.
Owasa Aifadao Fanano Hurukoko, panen dengan memotong babi 1 ekor.
Owasa Aifadao Famazehi Omo dan Famazehi Ana’a, beli emas untuk membuat hiasan istri dengan memotong babi 3 ekor.
Owasa Fotekhe Gioboroi, ambil batu untuk tempat duduk istri (adulomanu), meja bundar yang kecil / yang lebih besar dari telur ayam (adulomanu) disebut niogadi sedangkan yang lebih besar dari niogadi disebut nilare.
Owasa Fanarai Lata – lata, pesta owasa untuk perempuan membayar untuk mertua perempuan 2,5 alisi, 5 alisi, 15 – 20 ekor potong babi dan membayar sama pamannya 2,5 alisi.
Owasa Fatome, owasa untuk laki – laki dan ambil osa – osa 20 ekor.
Owasa Fodreha Hua – Fawalau, owasa pemberian behu dan nilare dengan memotong babi 50 ekor.
→ Upacara Fome’ana – Fome’ana merupakan upacara makan bersama yang bertujuan menghindarkan kerusakan yang menimpa kampung (upacara penolak bala).
Demikian upacara – upacara adat suku nias, tradisi ini sudah ada dari masa leluhur nias kuno dan diturunkan kepada anak cucu, tapi sebagian upacara adat yang dianggap sudah tidak relevan untuk masa sekarang ini sudah mulai direvisi

© SUARMAN ZEBUA ™ ( PEKAN BARU-RIAU-2018 ) Frontier Theme